Cerita tentang biografi almarhum bapak saya, membuat saya lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Betapa tidak, perjuangan bapak sewaktu masih hidup benar-benar luar biasa. Kata ibu, bapak itu seorang pekerja keras dan beliau juga bekerja dengan cerdas. Meskipun hanya lulusan SD waktu itu, tapi kesuksesannya terbukti, Beliau bisa menyekolahkan ketujuh anaknya sampai bisa masuk PTN favorit. Itu kebanggan tersendiri bagi beliau. Kata ibu ditahun 80-90an, “mana ada anak orang kampung (wong ndeso) sing iso sekolah duwur, ora duwe ragat”,begitu kata ibu. Tapi tidak dengan kakak nomor 3. Dia bisa menjadi salah satu juara dari 3 orang yang terpilih dari kota kediri yang bisa masuk IKIP Malang, Jurusan Keguruan. Lalu kebanggaan ibu dan bapak terbukti lagi saat kakak nomor 5 ternyata bisa menembus kedokteran UGM, tanpa uang sedikitpun. kakak saya ini memang pandai, kata ibu begitu, sejak SD-SMA masuk sekolah favorit dan jadi juara terus. Semua hanya bermodal kepandaian, bagi saya itu hal yang luar biasa sekali.
Sewaktu bapak masih muda(sudah menikah) bapak bekerja sebagai makelar genting(gendeng).Waktu itu di desa saya banyak sekali produsen pembuat genting. Yang jadi Manajer bapak saya. Beliau juga sempat berbisnis dibidang material bangunan yaitu batu-bata, kayu glugu dll. Pinternya bapak terletak dari kepiawaian beliau dalam mengelola keuangan dari hasil keuntungan bisnisnya. Dulu sekitar tahun 80-90an, keuntungan bisnis bapak sudah semakin besar. Kata ibu saya, kalaupun hasil keuntungan itu diberikan mobil, pasti bisa. Tapi tidak dengan bapak saya, waktu itu hasil keuntungan bisnisnya dibelikan sawah, perlahan tapi pasti, jumlah sawah yang dibeli bapak sudah ada 3 tempat, belum dengan pekarangan yang dibeli, karena bapak waktu itu juga beli lahan pekarangan/perkebunan 2 tempat. Menjelang hampir pensiun dari bisnisnya karena sudah tua, bapak masih bisa membeli oplet/angkutan umum dari hasil keuntungan bisnisnya. Pikir bapak waktu itu, kalo beliau meninggal nanti, perekonomian keluarga harus tetep lancar, dengan punya angkot sendiri kan setiap hari bisa dapat setoran, kebetulan yang jadi sopirnya juga kakak saya nomor 4.
Beberapa bulan kemudian, bapak meninggal karena sakit darah tinggi. waktu itu umurnya saya masih sekitar 5 tahunan. Saya juga tidak begitu sedih/terpukul dengan meninggalnya bapak, karena masih kecilnya usia saya. Malah kata mbokde saya, waktu bapak meninggal, saya sempat bilang ke beliau “pak..pak, bapak pergi(meninggal) ko ga pake kacamata, kalo bapak berangkat kerja kan pasti pake kacamata, ko ini kacamatanya ketinggalan. waktu itu kata orang-orang, perkataan saya tersebut membuat orang-orang yang bertakziyah menangis terharu.
Tak terasa sudah 18 tahun berlalu sejak meninggalnya bapak. Kini saya sudah berumahtangga. Meskipun dulu waktu sekolah SD sampai masuk PT, banyak kendala yang harus saya hadapi karena keuangan keluarga mulai surut, tapi tetap Alhamdulillah saya bisa tetap kuliah dari hasil panenan sawah yang ada dibeberapa tempat (warisan dari bapak). Bahkan tahun 1999, ibu juga bisa menunaikan haji dari hasil penjualan sawah yang dulu sempat bapak beli, tak hanya itu, kata ibu saya menikah juga menggunakan dana dari hasil panenan sawah tsb. Sampai sekarang untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari ibu juga menggunakan panenan sawah.
sebagai anak, saya terharu dan bangga dengan perjuangan bapak sewaktu masih hidup. Beliau begitu memperjuangkan keluarga kami hingga kami mempunyai beberapa aset(sawah dan perkebunan) yang ada di 6 tempat. Karena beliau tak ingin, jika meninggal, keluarga yang ditinggalkan terhimpit hutang dan permasalahan ekonomi keluarga.
Akhirnya, hanya doa yang bisa saya panjatkan setiap habis solat, untuk bapak saya, agar Alloh mengampuni dosa-dosanya selama hidupnya didunia dan diangkat derajatnya kelak diakhirat serta kami sekeluarga bisa ditemukan disurganya kelak, Amin.
“Ya Alloh, ampunilah dan kasihanilah kedua orang tua kami, sebagaimana mereka mengasihi kami sewaktu kami masih kecil”